Kamis, 27 Juni 2013

SEJARAH NEGERI TUHAHA


Alkisah orang Tuhaha bermula berasal dari Pedalam Pulau Seram yaitu Tupapa atau Tululauhaha (yang artinya turun kelaut / ketepi pantai), yang mungkin disebabkan karena  bencana alam atau peperangan, kemudian sampailah mereka kepulau Saparua dan membentuk Hena-hena yang terdiri dari Soa-soa.
Pada  saat itu semua negeri dipulau Saparua berada dipedalaman (pegunungan) demikianpun dengan Negeri Tuhaha yang terdiri dari 9(sembilan) soa masing-masing:


1.    Huhule       dipimpin oleh Kapitan Latu Ulisiwa Kapitan Aipassa, dibantu oleh :
v  Kapitan Pattipeiluhu atau Pattilapa
v  Kapitan Pollatu atau Somaha
  1. Ampatal    dipimpin oleh Kapitan Supusepa, dibantu oleh:
v  Kapitan Matakena &
v  Kapitan Lopulissa
  1. Talehu      dipimpin oleh Kapitan Sahusilawane
  2. Amapuano         dipimpin oleh Kapitan Louhenapessy
  3. Matalete   dipimpin oleh Kapitan Pollatu
  4. Apalili               dipimpin oleh Kapitan Sahetapy
  5. Tahapau   dipimpin oleh Kapitan Loupatty
  6. Sopake                      dinyatakan lenyap
  7. Amahutai          dinyatakan lenyap 
Untuk memperlancar roda pemerintahan maka Upu Latu Ulisiwa Kapitan Aipassa yang berkedudukan di Huhule diangkat sebagai pemimpin atas kesembilan Soa tersebut.
Pada Abad ke XVI kepulauan  Nusantara didatangani oleh berbagai bangsa asing, yang  lambat laun terjadilah penjajahan di Bumi Indonesia, termasuk juga kepulauan Maluku yang saat itu terkenal dengan hasil rempah-rempah, seperti cengkeh, pala, dan lainnya,
Pada Tahun 1618,  Kolonial Belanda dibawah Komando Jenderal Arnold de Flaming mengeluarkan  perintah agar semua Negeri yang berada dipegunungan segera turun dan berdiam di pesisir pantai.
Perintah itu diterima oleh Upu Latu Ulisiwa Kapitan Aipassa, dan langsung ditanggapi dengan memanggil dan mengumpulkan para Kapitan dan Pemuka-pemuka dari Ke-sembilan Soa, untuk meminta pendapat dari para Kepala Soa sehubungan dengan Perintah Penjajah tersebut.
Sidang Saniri Negeri diadakan di Huhule khusus untuk membahas “Apakah menerima Perintah Penjajah itu atau melawannya”, yang tentunya berkonsekwensi terjadi penyerangan oleh penjajah apabila tidak  mengindahkan perintah tersebut. Semua Kapitan dari ke-sembilan Soa menerima untuk turun kecuali Upu Latu Kapitan Aipassa tidak bersedia dengan alasan bahwa Upu Latu Kapitan Aipassa akan melawan saudaranya sendiri dari Negeri Iha atau Ulupaha Amalatu.
Sidang diadakan kembali dan setelah mendenganr pendapat dari pemuka-pemuka Negeri, dengan satu  cita-cita yaitu:

DEMI KELANJUTAN NEGERI BEINUSA AMALATU
DAN MASA DEPAN ANAK CUCU

maka sidang memutuskan untuk turun kepantai dipimpin oleh seorang pemimpin yang bernama Sasabone  dengan jabatan Raja Muda.
Sementara semua Negeri bersiap-siap untuk turun, satu-satunya Negeri yaitu negeri Iha atau Ulupaha Amalatu tidak bersedia dan tetap mengadakan perlawanan menentang penjajah Belanda.
Pertempuran terus berlangsung dan akhirnya penjajah Belanda meminta bantuan dari Tiga Negeri yaitu : Tuhaha, Paperu, dan Ullath, , untuk melawan Ulupaha Amalatu.
Pada tahun 1618 ketiga Negeri dengan pemimpinnya masing-masing yaitu:
·         Tuhaha (Beinusa )      dipimpin oleh  Raja Muda Sasabone
·         Paperu (Tounusa)      dipimpin oleh Raja Thomas Lawalata
·         Ullath (Beilohi) dipimpin oleh Raja Adrian Polbessy
bersama seluruh rakyatnya menuju Hatawano dan menetap di Negeri Nolloth untuk membangun basis pertahanan melawan Ulupaha Amalatu.
Sementara itu penjajah Belanda mengutus Raja Muda Sasabone untuk menyampaikan perintah kepada Ulupaha Amalatu agar segera turun kepesisir, tetapi perintah ini tidak disampaikan oleh Raja Muda Sasabone  dan dengan sengaja Raja Muda Sasabone kembali seraya menyampaikan kepada penjajajah bahwa “perintah  untuk turun kepesisir tidak diindahkan oleh Ulupaha Amalatu”
Sebaliknya Raja Muda Sasabone memberitahukan kepada penjajah cara dan strategi untuk mengalahkan Ulupaha Amalatu, yaitu dengan menggunakan tulang babi sebagai senjata untuk menghancurkan kejayaan Ulupaha Amalatu.
Akibatnya Upu Latu Ana Iha tidak mampu bertahan dan menyingkir bersama rakyatnya ke Iha Luhu di Seram Barat, dan karena kekalahannya itu, sebelum pergi Ulupaha Amalatu mengucapkan kutuk kepada Raja Muda Sasabone yang berbunyi :

“KUTUK  ETALAKI  ANA  BANGSA  SASAPOE”

Atas perintah Jenderal Arnold de Flaming maka tanah milik Ana Iha Upu Latu Ulupaha Amalatu dibagi kepada ketiga negeri yang telah membantu Belanda dengan pembahagian sebagai berikut:
o   Tanah bagian Timur sampai kepesisir Jazirah Hatawano kepada negeri Tounusa Amalatu dengan nama Posbril;
o   Tanah bagian Barat dari pedalaman sampai ke pesisir pantai kepada negeri Beinusa Amalatu dengan nama Tanah Hatala;
o   Tanah bagian Ujung Tanjung Hatawano bahagian Utara kepada negeri Beilohi Amalatu yang dijaga oleh satu Soa “TITAWAKA” (artinya Tinggal Jaga) yang sekarang bernama ITAWAKA.
Bulan berganti bulan, Tahun berganti Tahun, maka timbullah kerinduan dari semua masyarakat untuk menempati tanah mereka masing-masing  sebagaimana yang telah ditetapkan.
Berkumpullah  semua pemuka masyarakat, pemuka Agama dan para bala rakyat mengadakan musyawarah dan memutuskan untuk mengirim beberapa orang sebagai utusan untuk menyelidiki tempat atau dusun mana yang  bisa serta layak menjadi tempat pemukiman kelak turun temurun.
Setelah berdoa bersama antara Badan Saniri dan Pemuka Agama, maka berangkatlah  para utusan tersebut yang terdiri dari: 6 (enam) Kepala Soa dan seorang Guru Jemaat  yaitu Lukas Wattimena yang bergelar Guru keliling untuk melaksanakan tugasnya.
Tugas ini dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, dan selang beberapa hari kembalilah mereka dengan membawa berita bahwa, ada dua Dusun yaitu:
v  Dusun Pasir Putih  dan
v  Dusun Aimahono
Karena ada dua Dusun maka kembali mereka mengadakan musyawarah dan akhirnya melalui Doa Pergumulan antara Badan Saniri Negeri dan Pemuka Agama dan seorang Guru Agama (Lukas Wattimena) diputuskan untuk menarik undi dalam rangka menentukan Dusun mana yang akan menjadi dasar Negeri Beinusa Amalatu.
Ketika undi ditarik ternyata Dusun Pasir Putih – lah  yang terpilih, namun  rupanya para Leluhur kita saat itu masih mengandalkan pikiran mereka sendiri, dan dengan berbagai pertimbangan antara lain bahwa :
1.    Dusun Pasir Putih adalah Dusun yang sebahagian tanahnya merupakan tanah tandus dan tidak ada “Batang Air” (Sungai); sedangkan
2.   Dusun Aimahono  terdapat sebuah sungai kecil yang bernama Ulu Ono dan sebuah anak sungai, sebuah sungai besar yaitu Wai Ila. Serta tidak jauh dari Dusun Aimahono terdapat sebuah sumber air yaitu Waikapotol yang kini lazim disebut “Air Ternate”.
Berdasarkan pertimbangan itulah maka para leluhur kita memutuskan untuk membatalkan hasil undian yang mereka lakukan melalalui Doa, itu berarti bahwa mereka telah melanggar Doa Pergumulan mereka sendiri.
Menyadari akan hal tersebut maka kembali Badan Saniri Negeri dan Pemuka Agama mengadakan Doa mohon ampun atas pelanggaran mereka, sekaligus menetapkan DUSUN AIMAHONO yang akan menjadi dasar dari Negeri Beinusa Amalatu untuk anak cucu turun temurun.
Setelah dusun Aimahono ditetapkan maka berangkatlah Badan Saniri Negeri, Pemuka Agama, Kepala-kepala Keluarga dan Anak-anak yang telah
dewasa menuju Dusun Aimahono untuk mempersiapkan sebuah Negeri yang layak  dan damai.
Berhari-hari mereka bekerja secara bersama untuk membuat walang atau rumah, jalan-jalan dan akhirnya terbentuklah sebuah negeri dengan bentuk empat persegi, dikelilingi pepohonan yang hijau dan laut yang kaya akan hasilnya.
Sesudah sampai waktunya, pada tahun 1718 bersiaplah seluruh warga masyarakat Beinusa Amalatu, laki-laki/perempuan Tua / Muda serta Anak-anak dengan dipimpin oleh Kepala-kepala Soa dan seorang Guru Jemaat serta Pemuka-pemuka Agama, meninggalkan Negeri Nolloth. Dan tepat pada jam dubelas tengah malam diiringi dentangan lonceng, bergeraklah iring-iringan itu menuju Dusun Aimahono, untuk ditempati sebagai Negeri beinusa Amalatu.
Sekalipun mereka telah melanggar undi, namun Tuhan Allah telah mendengar Doa pergumulan mohon ampun, sebab itu Tuhan Allah meyertai mereka pada saat mereka meninggalkan negeri Nolloth menuju Tanah yang sudah disiapkan yaitu “Bumi Beinusa Amalatu”, dengan satu ikrar bahwa setiap tahun akan diadakan Doa Ucapan Syukur pada setiap  Minggu terakhir bulan Juni dan Desember atau 2(dua) kali dalam setahun dan harus dilaksanakan secara turun temurun.
Setiap tahun pada hari  Minggu terakhir bulan Juni dan Desember, kedua Badan Saniri Negeri dan Majelis Jemaat mendatangi setiap rumah tangga untuk memungut persembahan Syukur di Hari Minggu pagi,
dan pada petang hari semua Umat Negeri diwajibkan mengikuti Ibadah, yang sampai saat ini dikenal dengan istilah :
“MANGKOK ENAM BULAN atau GEREJA ENAM BULAN”
Demikianlah pengorbanan leluhur kita dimasa lampau demi masa depan yang lebih baik untuk anak – cucunya, yaitu kita sekarang ini, dan apakah yang harus kita lakukan di era Modernisasi dan Globalisasi untuk menciptakan  generasi yang  mandiri ???

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar